5.Ladang Gunung, Sawah dan Upacara Bercock Tanam Ala Suku Banjar
Daerah
Banjar terkenal dengan pertnian landang dan pertnian sawah. Pertanian
ladang atau disebut ladang gunung. Di samping menanam padi di ladang,
juga ditanam jenis tanaman Sembilan terutama kacang-kacangan. Pertanian
di ladang ini menempati tempat kedua setelah pertanian di sawah.
Teknik
pertanian. Pertanian ladang ini biasanya dilakukan di daerah pegunungan
di mana tanah masih banyak dan luas, yang memungkinkan mereka ini untuk
berpindah-pindah tempat untuk mencari daerah-daerah yang subur. Untuk
pertanian ladang biasanya ada dua macam tanah yaitu tanah yang masih
berhutan lebat dan tanah yang hanya ditumbuhi alang-alang.
Pada
tanah yang berhutan lebat urutan pekerjaan yang dilakukan untuk
melaksanakan pertanian ladang adalah menebang dan menebas hutan,
memotong kayu dan mebakar kayu tersebut. Sedangkan pada tanah yang hanya
ditumbuhi alang-alang yaitu membersihkan dan mencangkul tanah dalam
gumpalan-gumpalan kecil dan alat untuk mencangkulnya diperlukan tajak
gunung. Setelah itu dilubangi lagi dengan halu tugal dan ke dalam lubang
dimasukan bibit.
Upacara-upacara aata dalam pertnian.
Dalam
upacara pertanian ladang di Kalimantan selatan ini dikenal adanya
upacara yang disebut tandik sontokip, yakni sejenis tarian suku bangsa
dayak di daerah Marindi ---- Tabalon dari upacra ini adalah untuk
meminta kepada Sang Hiang, agar dalam melaksanakan menanam padi selamat
dan memberikan hasil yang memuaskan. Tarian ini dipimpin oleh seorang
dukun wanita
Pertanian
sawah. Daerah Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah penghasil
beras utama di Indonesia di samping daerah Sulawesi Selatan.
Lokasi penghasil beras di Kalimantan Selatan
meliputi, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Utara,
Kabupaten Huku Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten
Tapin dan daerah Barito Selatan serta Pleihari. Adapun jenis-jenis sawah
di daerah Kalimantan Selatan adalah.
• Sawah bayar atau sawah pasang surut,
• Sawah barat atau sawah tahun,
• Sawah timur atau sawah rintak,
• Sawah terapung atau sawah turung dan
• Sawah penyambung.
•
Sedang jenis padi yang dihasilkan sawah-sawah tersebut adalah padi
bayar putih, bayar melintang, bayar kuning, karang dukuh, siam, ketan
putih, ketan hitam, kencana, palun dan sebagainya.
Cara
pertanian di awah untuk daerah Kalimantan Selatan masih dilaksanakan
secara tradisional, dimulai dari menanam bibit padi, memelihara, dan
menuai (panen). Bukan hanya itu, teknik pertanianpun disesuaikan dengan
kondisi alam setempat, misalnya orang menanam bibit padi selain
dilakukan di atas tanah tinggi, juga ditanam di atas rakit yang diberi
tanah. Sedangkan ani-ani digunakan sebagai alat untuk memotong padi pada
umumnya. Selain itu waktu yang tepat waktu musim mengetan padi
orang-orang secara bergotong royong mengetam padi di sawah yang disebut
ba-arian atau bahandipan. Setelah diketan padi tersebut disimpan untuk
sementara ditempatkan di tempat yang dinamakan kerambat. Kemudian
setelah diirik (dipisahkan dari tangkai) dan dipompa lalu dijemur dan
kemudian disimpan di dalam tempat yang disebut kindai atau kerangking.
Dalam hal ini daerah Kalimantan Selatan dikenal dengan adanaya upacara-upacara yang bertujuan agar panen melimpah, antara lain.
Upacara memberasihi.
Pada waktu akan mengetan, untuk pelaksanaan upacara ini disediakan
sajen berupa nasi lemak dan kakulih yang disediakn dan dibacakan doa
selamat. Sedang pada pondok-pondok orang yang akan mengetan dinaikan
bendera kuning. Setelah itu mereka turun ke sawah menghampiri padi yang
sudah masak itu dan mulai mengetan dengan membaca selawat. Padi yang
diketan hanya tiga tangkai. Lalu dibungkus dengan kain kuning yang sudah
disediakan dan dibawa ke pondok untuk seterusnya diletakan ke tengah
kindai sebagai penyaru padi-padi yang lainnya. Setelah itu baru dimulai
mengetan secara bergotong royong.
Selain
itu adapula upacara ba-andi-andi. Dalam upacara ini lebih bersifat
kesenian di mana kalangan rakyat Kalimantan selatan ba-andi-andi yang
dinyanyikan pada waktu sedang mengetan padi dan mairik (memisahkan gabah
dari tangkai padi). Hal ini bertujuan untuk membangkitkan para pekerja
agar mereka bekerja lebih giat dan menjadi agar padi tidak rusak.
Adapula yang disebut lagu ahooi. Pada prisnsipnya sama dengan
ba-andi-andi yakni bertujuan untuk menghilangkan rasa lelah dan
membagkitkan gairah kerja.
6.Sasaka Domas
PETUNJUK IBADAH SUCI SUKU BADUY
Kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan disebut Sasaka Domas, atau Sasaka
Pusaka
Buana atau Sasaka Pada Ageung. Sasaka Domas adalah bangunan punden
berunduk atau berteras-teras sebanyak tujuh tingkatan. Setiap teras
diberi hambaro, benteng, yang terdiri atas susunan “menhir” (batu tegak)
dari batu kali. Pada teras tingkat keempat terdapat menhir yang besar
dan berukuran tinggi sekitar 2 m. Pada tingkat teratas terdapat “batu
lumpang” dengan lubang bergaris tengah sekitar 90 cm, menhir dan “arca
batu”. Arca batu ini disebut Arca Domas.
Domas
berarti keramat, suci. Tingkatan teras, makin ke selatan undak-undakan
makin tinggi dan suci. Digambarkan oleh Koorders (1869), Jacob dan
Meijcr (1891) dan Pleyte (1909) bahwa letaknya di tengah hutan tua yang
sangat lebat, hulu sungai Ciujung dan puncak gunung Pamuntuan. Bangunan
tua ini merupakan sisa peninggalan megalitik. Sebagai kiblat ibadah,
Sasaka Domas diyakini sebagai tanah atau tempat suci, keramat (sacral),
para nenek moyang berkumpul (Permana, 2006: 38 dan 89-90). Di tanah suci
ini umat Sunda Wiwitan melaksanakan ritual pe-muja-an. Ritus muja
adalah ziarah memanjatkan do‟a dan membersihkan obyek utama pemujaan
Baduy.
Ibadah
ritual pe-muja-an di Sasaka Domas dipimpin oleh puun Cikeusik. Tujuan
ritus muja adalah untuk me-muja para karuhun, nenek moyang, dan
menyucikan pusat dunia. Dalam ritual ini hanya orang-orang tertentu yang
melaksanakan muja atas nama masyarakat Baduy secara keseluruhan. Yakni,
para puun dan orang-orang yang ditunjuk. Orang-orang ditunjuk
melaksanakan ritus muja bukan didasarkan kriteria tertentu. Ritual ini
dilaksanakan selama tiga hari: tanggal 16, 17 dan 18 pada bulan Kalima.
Waktu tiga hari ritual terbagi terdiri dari, dua hari untuk pergi dan
pulang dan sehari untuk ibadah ritual muja (Permana, 2006: 88).
Prosesi
ziarah menuju ke Sasaka Domas harus melalui sisi sebelah utara, tidak
boleh dari sisi selatan. Ritual muja dimulai oleh puun pada teras
tingkat pertama, dengan menghadap ke selatan, arah puncak. Selesai
ritual muja biasanya pada tengah hari, sekitar pukul 11.00-13.00.
Setelah ritual muja, dilanjutkan dengan membersihkan dan membenahi
pelataran teras. Sampai pada teras teratas (ketujuh), para pe-muja
menyucikan muka, tangan dan kaki pada batu lumpang yang disebut
Sanghyang Pangumbaran. Keadaan air di dalam “batu lumpang” adalah simbol
keadaan alam Baduy. Jika airnya penuh dan jernih, menandakan akan turun
hujan banyak, cuaca baik dan panen berhasil. Sebaliknya, jika air
dangkal dan keruh menandakan kekeringan dan kegagalan panen. Pada
keadaan “menhir” di puncak, jika dipenuhi lumut menandakan akan
mendapatkan kesentosaan dan kesejahteraan dalam tahun bersangkutam,
tetapi sebaliknya dapat memperoleh kesengsaraan dan kesulitan (2006:
90-91).
Umat Sunda Wiwitan yang berniat, tidak diwajibkan, meminta berkah datang pada
sore tanggal 18 Kelima dan menanti para pe-muja di alun-alun depan rumah jaro Cikeusik
atas nama dan restu puun Cikeusik. Mereka membentuk kelompok berdasarkan asal
kampungnya. Setiap kelompok beranggota 5-10 orang dan memiliki juru bahasa dari
kokolot kampung. Juru bahasa berfungsi mengantar, mengenalkan dan mengutarakan niat
kedatangannya. Mereka wajib berpuasa dan mengenakan pakaian yang baik dan bersih.
Masing-masing
orang membawa sesaji dan uang kertas (semampunya) yang akan diserahkan
kepada jaro sebagai imbalan berkah. Berbuka puasanya tergantung pada
kedatangan para pe-muja dan setelah selesai mandi serta isyarat dari puun Cikeusik.
Waktu
berbuka puasa biasanya antara pukul 15.00-19.00, waktu lingsir dan
burit. Berbuka puasanya dengan luluy yang disediakan oleh palawari.
Luluy adalah sejenis lemang atau lontong dari beras yang dibungkus daun
patat dan dimasukkan dan dimasak di dalam bambu. Palawari adalah 5-7
orang laki-laki yang bertugas dan bertanggung jawab membuat luluy.
Tujuan meminta berkah adalah memohon keselamatan dan kemurahan rejeki
(2006: 91-92).
Prosesi meminta berkah di rumah jaro Cikeusik. Seluruh kelompok duduk bersila di
ruang
tepas, sedangkan jaro duduk bersila di ruang imah. Juru bahasa lebih
dahulu masuk ke ruang imah menghadap jaro untuk mengenalkan diri dan
kelompoknya serta menyampaikan niat dan tujuan mereka. Jaro duduk
bersila di sisi selatan ruang imah menghadap utara, sedangkan juru
bahasa berada di sisi utara menghadap ke selatan (jaro). Juru bahasa
langsung menyerahkan sesajinya kepada jaro. Setelah menerima sesaji,
jaro mengambil sepotong luluy yang di dalamnya dimasukkan jukut komala
dan lemah bodas. Jukut komala, rumput permata adalah lumut yang menempel
di teras tingkat kedua Sasaka Domas, sedang lemah bodas, tanah putih.
Keduanya diambil pada teras tingkat kedua dari sebelah utara. Lalu,
luluy diberi jampi-jampi, ditiup tiga kali dan disuapkan kepada seorang
peminta berkah. Akhirnya, juru bahasa memohon diri dan keluar
meninggalkan ruang imah, lalu mempersilakan anggota kelompoknya masuk ke
ruang imah secara bergiliran menghadap jaro. Mereka yang sudah
mendapatkan berkah segera ke luar rumah jaro. Prosesi ini berlangsung
hingga larut malam, bahkan pernah terjai hingga fajar (2006: 92).
Prosesi
meminta berkah berkiblat kepada prosesi ziarah ke Sasaka Domas.
Yakni, berkiblat menghadap ke arah selatan, tempat suci, Sasaka Domas.
Karena itu, kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan ke arah selatan.
Hal ini berbeda dengan ibadah shalat umat Islam Indonesia yang
berkiblat menghadap ke arah barat, Ka’bah. Meski demikian, pada dasarnya
prosesi ibadah pe-muja-an di tanah suci, Sasaka Domas mirip dengan
prosesi ibadah haji di tanah suci, Ka’bah. Ibadah haji dilaksanakan pada
tanggal 8, 9 dan 10 Dzulhijah. Pada tanggal 9 Dzulhijah umat Islam yang
tidak melaksanakan ibadah haji disunatkan berpuasa Arafah. Dan,
sebagian umat Islam Indonesia berbuka puasa biasanya dengan nasi lontong
atau ketupat.
Setelah
jama‟ah haji datang di rumah masing-masing, tidak sedikit masyarakat
Islam yang datang dan meminta berkah kepada orang yang telah
melaksanakan ibadah haji. Karena itu, yang jelas membedakan dengan
Islam, keimanan dan ketaatan Sunda Wiwitan kepada Tuhan terkandung di
dalam makna simboliknya supaya senantiasa menjaga dan melestarikan
hutan, sungai dan puncak gunung berada dalam ekosistemnya supaya
memberikan kedamaian dan kesejahteraan pada umat manusia.
Tri
Suci Waisak merupakan tiga peristiwa penting yang diperingati oleh umat
Buddha di seluruh dunia, salah satu tempat yang menjadi sentral upacara
seremonial Waisak yaitu pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah.
Tri
Suci Waisak merupakan tiga peristiwa suci yang dialami oleh Sidharta
Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan parinirvana.
- Kelahiran Sidharta, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini, Nepal.
-
Pencerahan sempurna Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun
588 sebelum Masehi di bawah pohon Bodhi, Bodhgaya, India.
- Parinirvana atau wafatnya Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 543 sebelum Masehi di Kushinara, India.
Ketiga
peristiwa ini memiliki nilai-nilai dharma Buddha yang mengajarkan
tentang pengorbanan hidup, kebenaran, kebijaksanaan dan kesempurnaan
hidup yang telah dijalani oleh Buddha Gautama.
Prosesi
Tri Suci Waisak diawali dengan Pindapata, prosesi dari Candi Mendut
menuju Candi Borobudur, ritual detik-detik Waisak, Pradaksina dan
ditutup dengan pelepasan lampion. Pelepasan lampion memiliki makna untuk
melepaskan penderitaan manusia.
Pemaknaan
Peristiwa Tri Suci Waisak terkait dengan pikiran dan pandangan manusia.
Pandangan terang dan pikiran luhur akan membawa manusia pada kehidupan
yang lebih baik.
Empat Pikiran Luhur:
1. Metta (Maitri) bermakna cinta kasih adalah bagian pertama dari Empat Kediaman Luhur (Brahmavihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna).
2. Karuna, artinya welas asih berupa pengharapan agar semua makhluk hidup terbebas dari penderitaan.
3. Mudita, atau simpatik, adalah sikap ikut bergembira akan kebahagiaan dan kebajikan semua makhluk.
4. Upekkha
atau keseimbangan batin adalah sikap menganggap semua makhluk hidup
adalah setara, terlepas dari hubungan mereka dengan diri sendiri.
Nilai-nilai
kemanusiaan dalam Peringatan Tri Suci Waisak merupakan teladan budi
pekerti yang luhur dan bermartabat, menjadi simbol karakter budaya
bangsa Indonesia.
Dan sebenarnya masih banyak lagi kebudayaan indonesia yang belum kita gali ataupun kita ketahui . karena indonesia mempunyai banyak kebudayaan di mulai dari kepercayaan , upacara adat, bahasa , maupun kesenian.
sekian Terimakasih ^_^
Sumber
http://kebudayaanindonesia.net/subkategori/91/upacara-keagamaan