Minggu, 21 Juni 2015

KERJA SAMBILAN PARTTIME TERBARU 

anda seorang ibu rumah tangga,pelajar,mahasiswa, ataupun pekerja yang sedang mencari pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilan ?
Saya sarankan anda untuk nergabung di bisnis eprotama. hanya dengan modal 100rb anda bisa mendapatkan penghasilan lebih .tanpa menjual produk 
silahkan daftar dan join jadi member sebelum anda kedahuluan orng lain
http://eprotama.com/?id=Nofia
 
   
Keunggulan bergabung di  eProtama.com 
Biaya Pendaftaran Murah Rp.100.000 Sekali untuk selamanya
Balik Modal Cepat
Semua member masuk Satu Group/Team Work di Jaringan Nasional
Anda Tidak Perlu Kerja Sendiri, tapi Diperlukan Kerja Sama
Sistem Bisnis yang Cocok untuk Semua Orang
Sistem Bisnis 3 x 10 Jaringan Nasional & 2 x 20 Level Jaringan Aktif
Menghasilkan Uang Terus Menerus


Kami tidak memberikan janji namun bukti, dimana sistem Bisnis yang berpihak ke semua member dengan Slogan DARI MEMBER DAN UNTUK MEMBER. Inilah Indahnya kebersamaan bersama eProtama.com
Jangan Ragu-ragu untuk bergabung bersama kami , dan buktikan betapa cepatnya anda mendapatkan Bonus-bonus dari program ini.
eProtama.com sebuah bisnis jaringan yang akan berkembang dengan sendirinya karena skalanya yang  Nasional, bahkan Internasional, apalagi di jaman global yang tidak ada batas ruang dan waktu spt sekarang ini. Jika di sistem-sistem sebelumnya kita bisa mendapatkan penghasilan jika kita aktif atau upline / jaringan kita aktif, maka tidak di eProtama.
Setiap member yang bergabung di eProtama otomatis memiliki 2 Jaringan sebagai sumber penghasilan, selain Rewards.
Yang Pertama adalah Jaringan Nasional atau Jaringan Pasif. Dimana Jaringan dengan matriks 3 x 10 ini disusun secara otomatis oleh perusahaan berdasarkan yang join lebih awal. Jadi semakin cepat anda bergabung semakin cepat pula peluang anda mendapatkan Rp 88 juta dibanding yang bergabung belakangan. Ya .. dalam bisnis ini kami menghargai mereka yang berani ambil keputusan dengan cepat. Dengan uang Rp 100.000 jika anda taruh di bank pasti akan habis, sedang kalau anda "taruh" bergabung di eProtama punya peluang menjadi Rp 88juta.
Yang Kedua adalah Jaringan Aktif. Selain mereka yang pasif dan berani ambil keputusan dgn cepat kami sangat menghargai mereka yang ikut aktif mengembangkan eProtama ini. Hanya dengan mengajak 2 orang saja anda sudah balik modal, bonus anda sudah Rp 100.000 (makin banyak makin besar bonusnya), kalau bisa targetkan 1 minggu (tidak sulit) dan ajarkan hal yang sama kepada 2 orang yg anda ajak bergabung, maka dgn asumsi sempurna, dalam 20 minggu atau kurang dari 6 bulan anda bisa memperoleh penghasilan hingga Rp 2 Milyar lebih ( selain bonus jar nasional / pasif sejumlah Rp 88juta di atas). PLUS reward yang dahsyat dari HP/Smartphone hingga Mobil/Rumah Mewah.
Sistem inilah yang ditunggu-tunggu para pebisnis yang akan sangat membantu member yang tidak dapat merekrut karena semua member berada di SATU Jaringan Nasional, yang mana penyusunan jaringan berdasarkan urutan Aktifasi Member, bukan berdasar garis sponsor seperti bisnis-bisnis jaringan yang terdahulu yang terbukti pada akhirnya tidak jalan / jaringan tidak berkembang.
AYOO GABUNG DAN DAPATKAN UNTUNGNYA

Sabtu, 14 Maret 2015

Wayang Kulit
Wayang5_1394803193.jpg
Wayang kulit adalah salah satu kebudayaan Indonesia dari zaman dahulu kala. Wayang berasal dari kata Ma Hyang yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna bayangan, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.
Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Selama bercerita, dalang diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para sinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160).

Wayang kulit sudah ada sejak zaman:
Wayang kulit Purwa pada jaman Mataram
Wayang kulit Purwa Pada jaman Kerajaan Kertasura Hadiningrat
Wayang kulit Purwa Pada jaman Kerajaan Surakarta Hadiningrat

Berikut adalah Nama-nama dari tokoh perwayangan yang ada di Indonesia:
  • Kayon Gapuran
  • Kayon Kecil
  • Burung Jatayu
  • Kereta Kencana
  • Hanuman/Hanoman
  • Batara Kala
  • Kala Barasrewu
  • Kala Bendana
  • Kapi Cucak Rawun
  • Anggada
  • Hanila
  • Sugriwa
  • Subali
  • MegaNanda/Indrajid
  • Prabu Rahwana
  • Kumba Karina
  • Buta Patih
  • Resi Jamadagni
  • Prabu Rama Wijaya
  • Prabu Sri Harjuna Sasrabahu
  • Raden Sumantri
  • Sukrasana
  • Sang Hyang Wenang
  • Sang Hyang MAnikmaya
  • Bathari Durga
  • Sang Hyang Bayu
  • Tugu Weseba
  • Bethara Kamajaya
  • Prabu Puntadewa
  • Raden Brathasena
  • Raden Werkudara
  • Raden Harjuna
  • Raden Permadi
  • Raden Antareja
  • Raden Gathutkaca
  • Semar
  • Nala Gareng
  • Petruk
  • Bagong
  • Raden Angka Wijaya
  • Prabu Bomanarakasuma
  • Prabu Duryugana
  • Prabu Baladewa
  • Raden Kakrasana
  • Raden Wisatha
  • Dewi Setyawati
  • Dewi Sembadra
  • Dewi Drupadi
  • Bethari Uma
  • Dewi Arimbi
  • Dewi Antiwati
  • Dewi Wilutama
  • Dewi Kunthi
  • Dewi Bratajaya
  • Dewi Utari
  • Dewi Jembawati
  • Dewi Kausalya
  • Dewi Rukmini
  • Dewi Setyaboma
  • Dewi Surtikanthi
  • Dewi Mustakaweni
  • Dewi Larasati
  • Dewi Lesmanawati
  • Dewi Srikandhi
  • Dewi Banowati
  • Dewi Trijatha
  • Raden Setyaki
  • Raden Burisrawa
  • Ditwa Janggi Sranna
 
KEBUDAYAAN INDONESIA
Upacara Keagamaan di Berbagai Wilayah
Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi sekitar kebudayaan yang ada di indonesia . Indonesia banyak mempunyai kebudayaan dari mulai kesenian , bahasa, kepercayaan, upacara keagamaan dan masih banyak lagi . oleh karena itu saya akan membahas salah satu kebudayaan indonesia yaitu upacara keagamaan 
1.Dugderan - Semarang
 Hasil gambar untuk dugderan
Dugderan merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan yang diadakan di Kota Semarang. Perayaan ini dimulai sejak masa kolonial  dan dipusatkan di daerah Simpang Lima. Perayaan dibuka oleh wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama "dugderan" merupakan onomatope dari suara letusan). Pada perayaan ini beragam barang dijual (semacam pasar malam) dan pada masa kini sering diikutkan berbagai sponsor dari sejumlah industri besar. Meskipun demikian, ada satu mainan yang selalu terkait dengan festival ini, yang dinamakan "warak ngendok". Dugderan dimaksudkan selain sebagai sarana hiburan juga sebagai sarana dakwah Islam.
Tradisi “Dugderan” ini berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug.
Tradisi yang sudah berumur ratusan tahun ini terus bertahan ditengah perkembangan jaman. biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat –berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh Walikota Semarang–, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap menjadi puncak dugderan.
Untuk tetap mempertahankan suasana seperti pada jamannya, dentuman meriam kini biasanya diganti dengan suara-suara petasan atau bleduran. Bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya, untuk menghasilkan suara seperti meriam biasanya diberi karbit yang kemudian disulut api.
Dugder terjadi pada masa pemerintahan Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat (1881). Beliaulah yang pertama kai menentukan mulainya hari puasa, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan Meriam di halaman Kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali. Namun sebelum bedug dan meriam dibunyikan, diadakan upacara di  halaman Kabupaten.
Adanya upacara Dug Der tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, menyebabkan datangnya para pedagang dari berbagai daerah yang menjual bermacam-macam makanan, minuman dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (Celengan, Gerabah), mainan dari bambu (Seruling, Gangsingan), dan mainan dari kertas (Warak Ngendog).
Jalannya upacara dugderan
Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa:
1. Bendera
2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.
3. Mesiu dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam.
4. Gamelan yang disiapkan di pendopo
Petugas yang harus siap agar prosesi upacara berjalan baik adalah:
1. Pembawa Acara
2. Petugas yang membunyikan bedug dan meriam
3. Pengrawit
4. Pemimpin upacara (biasanya lurah/kepala desa setempat).
2.Bakar Ilo Sanggari di Nusa Tenggara Barat
Hasil gambar untuk Bakar Ilo Sanggari di Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Sesuai dengan namanya, provinsi ini meliputi bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Dua pulau terbesar di provinsi ini adalah Lombok yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di timur. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok.
Sebagian besar dari penduduk Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima dan Sumbawa merupakan kelompok etnis terbesar di Pulau Sumbawa. Mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).
Masuknya Islam ke Nusa Tenggara Barat ini ditandai dengan kehadiran Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.
Dalam menyambut hari raya Idul Fitri, masyarakat NTB biasanya mengadakan sebuah ritual yang bernama Bakar Ilo Sanggari. Ilo Sanggari merupakan lentera yang terbuat dari sebilah bambu yang dililit dengan minyak biji jarak pagar. Lentera yang terbuat dari bambu dan dililit minyak biji jarak kemudian dibakar, dipasang di sekeliling rumah sehingga rumah bercahaya dengan nyala api. Masyarakat NTB percaya bahwa dengan menyalakan lentera, malaikat dan roh leluhur akan datang dan memberikan berkah di hari Lebaran.
Hari raya Idhul Fitri merupakan pintu kemenangan bagi warga muslim setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa.  Hari raya merupakan hari kemenangan, setelah satu bulan pula berperang melawan hawa nafsu. Untuk merayakan kemenangan itu, warga daerah ini menyambutnya dengan kesemarakan.  Setiap tahun masyarakat NTB  selalu membakar Ilo Sanggari. Meskipun ada beberapa masyarakat yang sudah tidak menyelenggarakannya lagi, namun bagi yang lain mereka percaya bawah dengan membakar Ilo Sanggari Malaikat dan roh leluhur akan datang dan memberikan berkah serta rejeki di hari lebaran.

3. Balimau
 Hasil gambar untuk balimau
Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian.Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.Balimau dilaksanakan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan. Pada jaman dahulu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.
Dalam tradisi ini sebetulnya perempuan tidak perlu mandi di sungai agar tidak bercampur dengan lelaki, tetapi bisa di sumur umum. Namun dalam perkembangan selanjutnya kebiasaan ini kemudian berkembang di masyarakat. Mandi bersama dilakukan di sungai dengan alasan untuk berekreasi sehingga bercampur antara lelaki dan perempuan.
Tradisi `mandi balimau` memang punya peluang untuk dijadikan ajang promosi apa saja. Pasalnya, tradisi mandi di sungai menjelang Ramadan ini diikuti ratusan hingga ribuan orang di Padang. Berbagai sungai di sana berubah menjadi lokasi tempat mandi yang membuat jalan macet karena dipadati warga yang hendak mandi ke sungai.  Tujuannya untuk mensucikan diri sebelum puasa dengan mandi aneka ramuan pengharum dari irisan limau, irisan pandan,dan berbagai bunga-bungaan, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu. Semua bahan ini direndam dalam air suam-suam kuku. Lalu, dibarutkan ke kepala. 

4. Jalur Pacu
 Hasil gambar untuk jalur pacu
Tradisi jalur pacu adalah tradisi menjelang lebaran yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Riau. Tradisi ini mirip dengan lomba dayung. Masyarakat akan tumpah ruah untuk menyaksikan tradisi jalur pacu yang dilakukan di sungai dengan menggunakan perahu tradisonal.
Jalur Pacu ini merupakan sebuah tradisi yang berasal dari daerah Kabupaten Kuantan.  Pacu memiliki arti lomba adu cepat, sedangkan jalur berarti perahu besar yang dapat memuat 40-50 orang anak pacu. Jalur dibuat dari sebatang pohon Bonio atau kulim kuyian dengan panjang 30 meter atau lebih dengan diameter 2meter.
Dalam Pacu banyak ritual yang mesti dilalui. Pertama-tama kayu yang diambil dihutan diawali dengan upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh pawang,kayu tersebut dianggap memiliki penghuni,upacara ini dilakukan agar proses penebangan kayu dapat berjalan lancar. Kemudian pohon ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat. Setelah itu Pohon yang ditebang dan diseret tadi di layur (diasapi) selama kurang lebih 12jam, proses pengasapan ini dilakukan pada malam hari diiringi upacara adat dan tari-tarian yang dihadiri oleh pemuka masyarakat. Tujuan kayu diasapi agar kayu atau jalur menjadi kering dan tidak berat saat dipacu. Pacu jalur dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam menyambut Hari Raya Idul Fitri, Maulid nabi dan Tahun Baru Islam 1 Muharam.
Kini Pacu jalur menjadi pesta masyarakat Kuantan Singingi dan masyarakat Riau pada umumnya yang telah menjadi kalender  Pariwisata Nasional. Pacu Jalur ini diadakan di Tepian batang Narosa Sungai Kuantan Taluk Kuantan, event Pacu Jalur tidak hanya diikuti oleh Jalur dariKecamatan yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh Jalur dari Kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi tetangga dan juga negara lain.

5.Ladang Gunung, Sawah dan Upacara Bercock Tanam Ala Suku Banjar
Hasil gambar untuk Ladang Gunung, Sawah dan Upacara Bercocok Tanam Ala Suku Banjar
Daerah Banjar terkenal dengan pertnian landang dan pertnian sawah. Pertanian ladang atau disebut ladang gunung. Di samping menanam padi di ladang, juga ditanam jenis tanaman Sembilan terutama kacang-kacangan. Pertanian di ladang ini menempati tempat kedua setelah pertanian di sawah.
Teknik pertanian. Pertanian ladang ini biasanya dilakukan di daerah pegunungan di mana tanah masih banyak dan luas, yang memungkinkan mereka ini untuk berpindah-pindah tempat untuk mencari daerah-daerah yang subur. Untuk pertanian ladang biasanya ada dua macam tanah yaitu tanah yang masih berhutan lebat dan tanah yang hanya ditumbuhi alang-alang.
Pada tanah yang berhutan lebat urutan pekerjaan yang dilakukan untuk melaksanakan pertanian ladang adalah menebang dan menebas hutan, memotong kayu dan mebakar kayu tersebut. Sedangkan pada tanah yang hanya ditumbuhi alang-alang yaitu membersihkan dan mencangkul tanah dalam gumpalan-gumpalan kecil dan alat untuk mencangkulnya diperlukan tajak gunung. Setelah itu dilubangi lagi dengan halu tugal dan ke dalam lubang dimasukan bibit.

Upacara-upacara aata dalam pertnian.

 Dalam upacara pertanian ladang di Kalimantan selatan ini dikenal adanya upacara yang disebut tandik sontokip, yakni sejenis tarian suku bangsa dayak di daerah Marindi ---- Tabalon dari upacra ini adalah untuk meminta kepada Sang Hiang, agar dalam melaksanakan menanam padi selamat dan memberikan hasil yang memuaskan. Tarian ini dipimpin oleh seorang dukun wanita
Pertanian sawah. Daerah Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah penghasil beras utama di Indonesia di samping daerah Sulawesi Selatan.
Lokasi penghasil beras di Kalimantan Selatan meliputi, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Huku Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Tapin dan daerah Barito Selatan serta Pleihari. Adapun jenis-jenis sawah di daerah Kalimantan Selatan adalah.
•    Sawah bayar atau sawah pasang surut,
•    Sawah barat atau sawah tahun,
•    Sawah timur atau sawah rintak,
•    Sawah terapung atau sawah turung dan
•    Sawah penyambung.
•    Sedang jenis padi yang dihasilkan sawah-sawah tersebut adalah padi bayar putih, bayar melintang, bayar kuning, karang dukuh, siam, ketan putih, ketan hitam, kencana, palun dan sebagainya.
Cara pertanian di awah untuk daerah Kalimantan Selatan masih dilaksanakan secara tradisional, dimulai dari menanam bibit padi, memelihara, dan menuai (panen). Bukan hanya itu, teknik pertanianpun disesuaikan dengan kondisi alam setempat, misalnya orang menanam bibit padi selain dilakukan di atas tanah tinggi, juga ditanam di atas rakit yang diberi tanah. Sedangkan ani-ani digunakan sebagai alat untuk memotong padi pada umumnya. Selain itu waktu yang tepat waktu musim mengetan padi orang-orang secara bergotong royong mengetam padi di sawah yang disebut ba-arian atau bahandipan. Setelah diketan padi tersebut disimpan untuk sementara ditempatkan di tempat yang dinamakan kerambat. Kemudian setelah diirik (dipisahkan dari tangkai) dan dipompa lalu dijemur dan kemudian disimpan di dalam tempat yang disebut kindai atau kerangking.
Dalam hal ini daerah Kalimantan Selatan dikenal dengan adanaya upacara-upacara yang bertujuan agar panen  melimpah, antara lain.
Upacara memberasihi. Pada waktu akan mengetan, untuk pelaksanaan upacara ini disediakan sajen berupa nasi lemak dan kakulih yang disediakn dan dibacakan doa selamat. Sedang pada pondok-pondok orang yang akan mengetan dinaikan bendera kuning. Setelah itu mereka turun ke sawah menghampiri padi yang sudah masak itu dan mulai mengetan dengan membaca selawat. Padi yang diketan hanya tiga tangkai. Lalu dibungkus dengan kain kuning yang sudah disediakan dan dibawa ke pondok untuk seterusnya diletakan ke tengah kindai sebagai penyaru padi-padi yang lainnya. Setelah itu baru dimulai mengetan secara bergotong royong.
Selain itu adapula upacara ba-andi-andi. Dalam upacara ini lebih bersifat kesenian di mana kalangan rakyat Kalimantan selatan ba-andi-andi yang dinyanyikan pada waktu sedang mengetan padi dan mairik (memisahkan gabah dari tangkai padi). Hal ini bertujuan untuk membangkitkan para pekerja agar mereka bekerja lebih giat dan menjadi agar padi tidak rusak. Adapula yang disebut lagu ahooi. Pada prisnsipnya sama dengan ba-andi-andi yakni bertujuan untuk menghilangkan rasa lelah dan membagkitkan gairah kerja.

6.Sasaka Domas
Hasil gambar untuk kebudayaan sasaka domas

PETUNJUK IBADAH SUCI SUKU BADUY


Kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan disebut Sasaka Domas, atau Sasaka

Pusaka Buana atau Sasaka Pada Ageung. Sasaka Domas adalah bangunan punden berunduk atau berteras-teras sebanyak tujuh tingkatan. Setiap teras diberi hambaro, benteng, yang terdiri atas susunan “menhir” (batu tegak) dari batu kali. Pada teras tingkat keempat terdapat menhir yang besar dan berukuran tinggi sekitar 2 m. Pada tingkat teratas terdapat “batu lumpang” dengan lubang bergaris tengah sekitar 90 cm, menhir dan “arca batu”. Arca batu ini disebut Arca Domas.

Domas berarti keramat, suci. Tingkatan teras, makin ke selatan undak-undakan makin tinggi dan suci. Digambarkan oleh Koorders (1869), Jacob dan Meijcr (1891) dan Pleyte (1909) bahwa letaknya di tengah hutan tua yang sangat lebat, hulu sungai Ciujung dan puncak gunung Pamuntuan. Bangunan tua ini merupakan sisa peninggalan megalitik. Sebagai kiblat ibadah, Sasaka Domas diyakini sebagai tanah atau tempat suci, keramat (sacral), para nenek moyang berkumpul (Permana, 2006: 38 dan 89-90). Di tanah suci ini umat Sunda Wiwitan melaksanakan ritual pe-muja-an. Ritus muja adalah ziarah memanjatkan do‟a dan membersihkan obyek utama pemujaan Baduy.
Ibadah ritual pe-muja-an di Sasaka Domas dipimpin oleh puun Cikeusik. Tujuan ritus muja adalah untuk me-muja para karuhun, nenek moyang, dan menyucikan pusat dunia. Dalam ritual ini hanya orang-orang tertentu yang melaksanakan muja atas nama masyarakat Baduy secara keseluruhan. Yakni, para puun dan orang-orang yang ditunjuk. Orang-orang ditunjuk melaksanakan ritus muja bukan didasarkan kriteria tertentu. Ritual ini dilaksanakan selama tiga hari: tanggal 16, 17 dan 18 pada bulan Kalima. Waktu tiga hari ritual terbagi terdiri dari, dua hari untuk pergi dan pulang dan sehari untuk ibadah ritual muja (Permana, 2006: 88).
Prosesi ziarah menuju ke Sasaka Domas harus melalui sisi sebelah utara, tidak boleh dari sisi selatan. Ritual muja dimulai oleh puun pada teras tingkat pertama, dengan menghadap ke selatan, arah puncak. Selesai ritual muja biasanya pada tengah hari, sekitar pukul 11.00-13.00. Setelah ritual muja, dilanjutkan dengan membersihkan dan membenahi pelataran teras. Sampai pada teras teratas (ketujuh), para pe-muja menyucikan muka, tangan dan kaki pada batu lumpang yang disebut Sanghyang Pangumbaran. Keadaan air di dalam “batu lumpang” adalah simbol keadaan alam Baduy. Jika airnya penuh dan jernih, menandakan akan turun hujan banyak, cuaca baik dan panen berhasil. Sebaliknya, jika air dangkal dan keruh menandakan kekeringan dan kegagalan panen. Pada keadaan “menhir” di puncak, jika dipenuhi lumut menandakan akan mendapatkan kesentosaan dan kesejahteraan dalam tahun bersangkutam, tetapi sebaliknya dapat memperoleh kesengsaraan dan kesulitan (2006: 90-91).
Umat Sunda Wiwitan yang berniat, tidak diwajibkan, meminta berkah datang pada
sore tanggal 18 Kelima dan menanti para pe-muja di alun-alun depan rumah jaro Cikeusik
atas nama dan restu puun Cikeusik. Mereka membentuk kelompok berdasarkan asal
kampungnya. Setiap kelompok beranggota 5-10 orang dan memiliki juru bahasa dari
kokolot kampung. Juru bahasa berfungsi mengantar, mengenalkan dan mengutarakan niat
kedatangannya. Mereka wajib berpuasa dan mengenakan pakaian yang baik dan bersih.
Masing-masing orang membawa sesaji dan uang kertas (semampunya) yang akan diserahkan kepada jaro sebagai imbalan berkah. Berbuka puasanya tergantung pada
kedatangan para pe-muja dan setelah selesai mandi serta isyarat dari puun Cikeusik.
Waktu berbuka puasa biasanya antara pukul 15.00-19.00, waktu lingsir dan burit. Berbuka puasanya dengan luluy yang disediakan oleh palawari. Luluy adalah sejenis lemang atau lontong dari beras yang dibungkus daun patat dan dimasukkan dan dimasak di dalam bambu. Palawari adalah 5-7 orang laki-laki yang bertugas dan bertanggung jawab membuat luluy. Tujuan meminta berkah adalah memohon keselamatan dan kemurahan rejeki (2006: 91-92).
Prosesi meminta berkah di rumah jaro Cikeusik. Seluruh kelompok duduk bersila di
ruang tepas, sedangkan jaro duduk bersila di ruang imah. Juru bahasa lebih dahulu masuk ke ruang imah menghadap jaro untuk mengenalkan diri dan kelompoknya serta menyampaikan niat dan tujuan mereka. Jaro duduk bersila di sisi selatan ruang imah menghadap utara, sedangkan juru bahasa berada di sisi utara menghadap ke selatan (jaro). Juru bahasa langsung menyerahkan sesajinya kepada jaro. Setelah menerima sesaji, jaro mengambil sepotong luluy yang di dalamnya dimasukkan jukut komala dan lemah bodas. Jukut komala, rumput permata adalah lumut yang menempel di teras tingkat kedua Sasaka Domas, sedang lemah bodas, tanah putih. Keduanya diambil pada teras tingkat kedua dari sebelah utara. Lalu, luluy diberi jampi-jampi, ditiup tiga kali dan disuapkan kepada seorang peminta berkah. Akhirnya, juru bahasa memohon diri dan keluar meninggalkan ruang imah, lalu mempersilakan anggota kelompoknya masuk ke ruang imah secara bergiliran menghadap jaro. Mereka yang sudah mendapatkan berkah segera ke luar rumah jaro. Prosesi ini berlangsung hingga larut malam, bahkan pernah terjai hingga fajar (2006: 92).
Prosesi meminta berkah berkiblat kepada prosesi ziarah ke Sasaka Domas. Yakni, berkiblat menghadap ke arah selatan, tempat suci, Sasaka Domas. Karena itu, kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan ke arah selatan. Hal ini berbeda dengan ibadah shalat umat Islam Indonesia yang berkiblat menghadap ke arah barat, Ka’bah. Meski demikian, pada dasarnya prosesi ibadah pe-muja-an di tanah suci, Sasaka Domas mirip dengan prosesi ibadah haji di tanah suci, Ka’bah. Ibadah haji dilaksanakan pada tanggal 8, 9 dan 10 Dzulhijah. Pada tanggal 9 Dzulhijah umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji disunatkan berpuasa Arafah. Dan, sebagian umat Islam Indonesia berbuka puasa biasanya dengan nasi lontong atau ketupat. 
Setelah jama‟ah haji datang di rumah masing-masing, tidak sedikit masyarakat Islam yang datang dan meminta berkah kepada orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena itu, yang jelas membedakan dengan Islam, keimanan dan ketaatan Sunda Wiwitan kepada Tuhan terkandung di dalam makna simboliknya supaya senantiasa menjaga dan melestarikan hutan, sungai dan puncak gunung berada dalam ekosistemnya supaya memberikan kedamaian dan kesejahteraan pada umat manusia. 
7.Peristiwa Tri Suci Waisak 
 Hasil gambar untuk peristiwa tri suci waisak

Tri Suci Waisak merupakan tiga peristiwa penting yang diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia, salah satu tempat yang menjadi sentral upacara seremonial Waisak yaitu pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Tri Suci Waisak merupakan tiga peristiwa suci yang dialami oleh Sidharta Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan parinirvana.
- Kelahiran Sidharta, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini, Nepal.
- Pencerahan sempurna Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 588 sebelum Masehi di bawah pohon Bodhi, Bodhgaya, India.
- Parinirvana atau wafatnya Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 543 sebelum Masehi di Kushinara, India.
Ketiga peristiwa ini memiliki nilai-nilai dharma Buddha yang mengajarkan tentang pengorbanan hidup, kebenaran, kebijaksanaan dan kesempurnaan hidup yang telah dijalani oleh Buddha Gautama.
Prosesi Tri Suci Waisak diawali dengan Pindapata, prosesi dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, ritual detik-detik Waisak, Pradaksina dan ditutup dengan pelepasan lampion. Pelepasan lampion memiliki makna untuk melepaskan penderitaan manusia.
Pemaknaan Peristiwa Tri Suci Waisak terkait dengan pikiran dan pandangan manusia. Pandangan terang dan pikiran luhur akan membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik.
Empat Pikiran Luhur:
1. Metta (Maitri) bermakna cinta kasih adalah bagian pertama dari Empat Kediaman Luhur (Brahmavihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna).
2. Karuna, artinya welas asih berupa pengharapan agar semua makhluk hidup terbebas dari penderitaan.
3. Mudita, atau simpatik, adalah sikap ikut bergembira akan kebahagiaan dan kebajikan semua makhluk.
4. Upekkha atau keseimbangan batin adalah sikap menganggap semua makhluk hidup adalah setara, terlepas dari hubungan mereka dengan diri sendiri.
Nilai-nilai kemanusiaan dalam Peringatan Tri Suci Waisak merupakan teladan budi pekerti yang luhur dan bermartabat, menjadi simbol karakter budaya bangsa Indonesia.

Dan sebenarnya masih banyak lagi kebudayaan indonesia yang belum kita gali ataupun kita ketahui . karena indonesia mempunyai banyak kebudayaan di mulai dari kepercayaan , upacara adat, bahasa , maupun kesenian.
sekian Terimakasih ^_^

Sumber
http://kebudayaanindonesia.net/subkategori/91/upacara-keagamaan