Sabtu, 14 Maret 2015

Wayang Kulit
Wayang5_1394803193.jpg
Wayang kulit adalah salah satu kebudayaan Indonesia dari zaman dahulu kala. Wayang berasal dari kata Ma Hyang yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna bayangan, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.
Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Selama bercerita, dalang diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para sinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160).

Wayang kulit sudah ada sejak zaman:
Wayang kulit Purwa pada jaman Mataram
Wayang kulit Purwa Pada jaman Kerajaan Kertasura Hadiningrat
Wayang kulit Purwa Pada jaman Kerajaan Surakarta Hadiningrat

Berikut adalah Nama-nama dari tokoh perwayangan yang ada di Indonesia:
  • Kayon Gapuran
  • Kayon Kecil
  • Burung Jatayu
  • Kereta Kencana
  • Hanuman/Hanoman
  • Batara Kala
  • Kala Barasrewu
  • Kala Bendana
  • Kapi Cucak Rawun
  • Anggada
  • Hanila
  • Sugriwa
  • Subali
  • MegaNanda/Indrajid
  • Prabu Rahwana
  • Kumba Karina
  • Buta Patih
  • Resi Jamadagni
  • Prabu Rama Wijaya
  • Prabu Sri Harjuna Sasrabahu
  • Raden Sumantri
  • Sukrasana
  • Sang Hyang Wenang
  • Sang Hyang MAnikmaya
  • Bathari Durga
  • Sang Hyang Bayu
  • Tugu Weseba
  • Bethara Kamajaya
  • Prabu Puntadewa
  • Raden Brathasena
  • Raden Werkudara
  • Raden Harjuna
  • Raden Permadi
  • Raden Antareja
  • Raden Gathutkaca
  • Semar
  • Nala Gareng
  • Petruk
  • Bagong
  • Raden Angka Wijaya
  • Prabu Bomanarakasuma
  • Prabu Duryugana
  • Prabu Baladewa
  • Raden Kakrasana
  • Raden Wisatha
  • Dewi Setyawati
  • Dewi Sembadra
  • Dewi Drupadi
  • Bethari Uma
  • Dewi Arimbi
  • Dewi Antiwati
  • Dewi Wilutama
  • Dewi Kunthi
  • Dewi Bratajaya
  • Dewi Utari
  • Dewi Jembawati
  • Dewi Kausalya
  • Dewi Rukmini
  • Dewi Setyaboma
  • Dewi Surtikanthi
  • Dewi Mustakaweni
  • Dewi Larasati
  • Dewi Lesmanawati
  • Dewi Srikandhi
  • Dewi Banowati
  • Dewi Trijatha
  • Raden Setyaki
  • Raden Burisrawa
  • Ditwa Janggi Sranna
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar