KEBUDAYAAN INDONESIA
Upacara Keagamaan di Berbagai Wilayah
Pada
kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi sekitar kebudayaan
yang ada di indonesia . Indonesia banyak mempunyai kebudayaan dari mulai
kesenian , bahasa, kepercayaan, upacara keagamaan dan masih banyak lagi
. oleh karena itu saya akan membahas salah satu kebudayaan indonesia
yaitu upacara keagamaan
1.Dugderan - Semarang
Dugderan
merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan
Ramadan yang diadakan di Kota Semarang. Perayaan ini dimulai sejak masa
kolonial dan dipusatkan di daerah Simpang Lima. Perayaan dibuka oleh
wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama
"dugderan" merupakan onomatope dari suara letusan). Pada perayaan ini
beragam barang dijual (semacam pasar malam) dan pada masa kini sering
diikutkan berbagai sponsor dari sejumlah industri besar. Meskipun
demikian, ada satu mainan yang selalu terkait dengan festival ini, yang
dinamakan "warak ngendok". Dugderan dimaksudkan selain sebagai sarana
hiburan juga sebagai sarana dakwah Islam.
Tradisi
“Dugderan” ini berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah. Nama “Dugderan”
sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara
dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal
bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara
dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug.
Tradisi
yang sudah berumur ratusan tahun ini terus bertahan ditengah
perkembangan jaman. biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa
dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah
menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat
–berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh
Walikota Semarang–, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap
menjadi puncak dugderan.
Untuk
tetap mempertahankan suasana seperti pada jamannya, dentuman meriam
kini biasanya diganti dengan suara-suara petasan atau bleduran. Bleduran
terbuat dari bongkahan batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya,
untuk menghasilkan suara seperti meriam biasanya diberi karbit yang
kemudian disulut api.
Dugder
terjadi pada masa pemerintahan Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat (1881).
Beliaulah yang pertama kai menentukan mulainya hari puasa, yaitu
setelah Bedug Masjid Agung dan Meriam di halaman Kabupaten dibunyikan
masing-masing tiga kali. Namun sebelum bedug dan meriam dibunyikan,
diadakan upacara di halaman Kabupaten.
Adanya
upacara Dug Der tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat
Semarang dan sekitarnya, menyebabkan datangnya para pedagang dari
berbagai daerah yang menjual bermacam-macam makanan, minuman dan mainan
anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (Celengan, Gerabah),
mainan dari bambu (Seruling, Gangsingan), dan mainan dari kertas (Warak
Ngendog).
Jalannya upacara dugderan
Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa:
1. Bendera
2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.
3. Mesiu dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam.
4. Gamelan yang disiapkan di pendopo
Petugas yang harus siap agar prosesi upacara berjalan baik adalah:
1. Pembawa Acara
2. Petugas yang membunyikan bedug dan meriam
3. Pengrawit
4. Pemimpin upacara (biasanya lurah/kepala desa setempat).
2.Bakar Ilo Sanggari di Nusa Tenggara Barat

PETUNJUK IBADAH SUCI SUKU BADUY
Kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan disebut Sasaka Domas, atau Sasaka
Pusaka Buana atau Sasaka Pada Ageung. Sasaka Domas adalah bangunan punden berunduk atau berteras-teras sebanyak tujuh tingkatan. Setiap teras diberi hambaro, benteng, yang terdiri atas susunan “menhir” (batu tegak) dari batu kali. Pada teras tingkat keempat terdapat menhir yang besar dan berukuran tinggi sekitar 2 m. Pada tingkat teratas terdapat “batu lumpang” dengan lubang bergaris tengah sekitar 90 cm, menhir dan “arca batu”. Arca batu ini disebut Arca Domas.
Domas berarti keramat, suci. Tingkatan teras, makin ke selatan undak-undakan makin tinggi dan suci. Digambarkan oleh Koorders (1869), Jacob dan Meijcr (1891) dan Pleyte (1909) bahwa letaknya di tengah hutan tua yang sangat lebat, hulu sungai Ciujung dan puncak gunung Pamuntuan. Bangunan tua ini merupakan sisa peninggalan megalitik. Sebagai kiblat ibadah, Sasaka Domas diyakini sebagai tanah atau tempat suci, keramat (sacral), para nenek moyang berkumpul (Permana, 2006: 38 dan 89-90). Di tanah suci ini umat Sunda Wiwitan melaksanakan ritual pe-muja-an. Ritus muja adalah ziarah memanjatkan do‟a dan membersihkan obyek utama pemujaan Baduy.
Nusa
Tenggara Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Sesuai dengan
namanya, provinsi ini meliputi bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Dua
pulau terbesar di provinsi ini adalah Lombok yang terletak di barat dan
Sumbawa yang terletak di timur. Ibu kota provinsi ini adalah Kota
Mataram yang berada di Pulau Lombok.
Sebagian
besar dari penduduk Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima
dan Sumbawa merupakan kelompok etnis terbesar di Pulau Sumbawa.
Mayoritas penduduk Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).
Masuknya
Islam ke Nusa Tenggara Barat ini ditandai dengan kehadiran Kerajaan
yang dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu
Giri. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya
dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang
memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam
ke berbagai wilayah di Nusantara.
Dalam
menyambut hari raya Idul Fitri, masyarakat NTB biasanya mengadakan
sebuah ritual yang bernama Bakar Ilo Sanggari. Ilo Sanggari merupakan
lentera yang terbuat dari sebilah bambu yang dililit dengan minyak biji
jarak pagar. Lentera yang terbuat dari bambu dan dililit minyak biji
jarak kemudian dibakar, dipasang di sekeliling rumah sehingga rumah
bercahaya dengan nyala api. Masyarakat NTB percaya bahwa dengan
menyalakan lentera, malaikat dan roh leluhur akan datang dan memberikan
berkah di hari Lebaran.
Hari
raya Idhul Fitri merupakan pintu kemenangan bagi warga muslim setelah
satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa. Hari raya merupakan hari
kemenangan, setelah satu bulan pula berperang melawan hawa nafsu. Untuk
merayakan kemenangan itu, warga daerah ini menyambutnya dengan
kesemarakan. Setiap tahun masyarakat NTB selalu membakar Ilo Sanggari.
Meskipun ada beberapa masyarakat yang sudah tidak menyelenggarakannya
lagi, namun bagi yang lain mereka percaya bawah dengan membakar Ilo
Sanggari Malaikat dan roh leluhur akan datang dan memberikan berkah
serta rejeki di hari lebaran.
3. Balimau

Balimau
adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di
kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan
tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian.Diwariskan
secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama
berabad-abad.Balimau dilaksanakan untuk membersihkan diri secara lahir
dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan. Pada jaman dahulu pengganti
sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis),
karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.
Dalam
tradisi ini sebetulnya perempuan tidak perlu mandi di sungai agar tidak
bercampur dengan lelaki, tetapi bisa di sumur umum. Namun dalam
perkembangan selanjutnya kebiasaan ini kemudian berkembang di
masyarakat. Mandi bersama dilakukan di sungai dengan alasan untuk
berekreasi sehingga bercampur antara lelaki dan perempuan.
Tradisi
`mandi balimau` memang punya peluang untuk dijadikan ajang promosi apa
saja. Pasalnya, tradisi mandi di sungai menjelang Ramadan ini diikuti
ratusan hingga ribuan orang di Padang. Berbagai sungai di sana berubah
menjadi lokasi tempat mandi yang membuat jalan macet karena dipadati
warga yang hendak mandi ke sungai. Tujuannya untuk mensucikan diri
sebelum puasa dengan mandi aneka ramuan pengharum dari irisan limau,
irisan pandan,dan berbagai bunga-bungaan, bunga kenanga, dan akar
tanaman gambelu. Semua bahan ini direndam dalam air suam-suam kuku.
Lalu, dibarutkan ke kepala.
4. Jalur Pacu

Tradisi
jalur pacu adalah tradisi menjelang lebaran yang dilakukan oleh
masyarakat di daerah Riau. Tradisi ini mirip dengan lomba dayung.
Masyarakat akan tumpah ruah untuk menyaksikan tradisi jalur pacu yang
dilakukan di sungai dengan menggunakan perahu tradisonal.
Jalur
Pacu ini merupakan sebuah tradisi yang berasal dari daerah Kabupaten
Kuantan. Pacu memiliki arti lomba adu cepat, sedangkan jalur berarti
perahu besar yang dapat memuat 40-50 orang anak pacu. Jalur dibuat dari
sebatang pohon Bonio atau kulim kuyian dengan panjang 30 meter atau
lebih dengan diameter 2meter.
Dalam
Pacu banyak ritual yang mesti dilalui. Pertama-tama kayu yang diambil
dihutan diawali dengan upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh
pawang,kayu tersebut dianggap memiliki penghuni,upacara ini dilakukan
agar proses penebangan kayu dapat berjalan lancar. Kemudian pohon
ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat. Setelah itu Pohon
yang ditebang dan diseret tadi di layur (diasapi) selama kurang lebih
12jam, proses pengasapan ini dilakukan pada malam hari diiringi upacara
adat dan tari-tarian yang dihadiri oleh pemuka masyarakat. Tujuan kayu
diasapi agar kayu atau jalur menjadi kering dan tidak berat saat dipacu.
Pacu jalur dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam
menyambut Hari Raya Idul Fitri, Maulid nabi dan Tahun Baru Islam 1
Muharam.
Kini
Pacu jalur menjadi pesta masyarakat Kuantan Singingi dan masyarakat
Riau pada umumnya yang telah menjadi kalender Pariwisata Nasional. Pacu
Jalur ini diadakan di Tepian batang Narosa Sungai Kuantan Taluk
Kuantan, event Pacu Jalur tidak hanya diikuti oleh Jalur dariKecamatan
yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh Jalur
dari Kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi
tetangga dan juga negara lain.
5.Ladang Gunung, Sawah dan Upacara Bercock Tanam Ala Suku Banjar

Daerah Banjar terkenal dengan pertnian landang dan pertnian sawah. Pertanian ladang atau disebut ladang gunung. Di samping menanam padi di ladang, juga ditanam jenis tanaman Sembilan terutama kacang-kacangan. Pertanian di ladang ini menempati tempat kedua setelah pertanian di sawah.
Daerah Banjar terkenal dengan pertnian landang dan pertnian sawah. Pertanian ladang atau disebut ladang gunung. Di samping menanam padi di ladang, juga ditanam jenis tanaman Sembilan terutama kacang-kacangan. Pertanian di ladang ini menempati tempat kedua setelah pertanian di sawah.
Teknik
pertanian. Pertanian ladang ini biasanya dilakukan di daerah pegunungan
di mana tanah masih banyak dan luas, yang memungkinkan mereka ini untuk
berpindah-pindah tempat untuk mencari daerah-daerah yang subur. Untuk
pertanian ladang biasanya ada dua macam tanah yaitu tanah yang masih
berhutan lebat dan tanah yang hanya ditumbuhi alang-alang.
Pada
tanah yang berhutan lebat urutan pekerjaan yang dilakukan untuk
melaksanakan pertanian ladang adalah menebang dan menebas hutan,
memotong kayu dan mebakar kayu tersebut. Sedangkan pada tanah yang hanya
ditumbuhi alang-alang yaitu membersihkan dan mencangkul tanah dalam
gumpalan-gumpalan kecil dan alat untuk mencangkulnya diperlukan tajak
gunung. Setelah itu dilubangi lagi dengan halu tugal dan ke dalam lubang
dimasukan bibit.
Upacara-upacara aata dalam pertnian.
Dalam upacara pertanian ladang di Kalimantan selatan ini dikenal adanya upacara yang disebut tandik sontokip, yakni sejenis tarian suku bangsa dayak di daerah Marindi ---- Tabalon dari upacra ini adalah untuk meminta kepada Sang Hiang, agar dalam melaksanakan menanam padi selamat dan memberikan hasil yang memuaskan. Tarian ini dipimpin oleh seorang dukun wanita
Upacara-upacara aata dalam pertnian.
Dalam upacara pertanian ladang di Kalimantan selatan ini dikenal adanya upacara yang disebut tandik sontokip, yakni sejenis tarian suku bangsa dayak di daerah Marindi ---- Tabalon dari upacra ini adalah untuk meminta kepada Sang Hiang, agar dalam melaksanakan menanam padi selamat dan memberikan hasil yang memuaskan. Tarian ini dipimpin oleh seorang dukun wanita
Pertanian
sawah. Daerah Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah penghasil
beras utama di Indonesia di samping daerah Sulawesi Selatan.
Lokasi penghasil beras di Kalimantan Selatan
meliputi, Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Utara,
Kabupaten Huku Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten
Tapin dan daerah Barito Selatan serta Pleihari. Adapun jenis-jenis sawah
di daerah Kalimantan Selatan adalah.
• Sawah bayar atau sawah pasang surut,
• Sawah barat atau sawah tahun,
• Sawah timur atau sawah rintak,
• Sawah terapung atau sawah turung dan
• Sawah penyambung.
• Sedang jenis padi yang dihasilkan sawah-sawah tersebut adalah padi bayar putih, bayar melintang, bayar kuning, karang dukuh, siam, ketan putih, ketan hitam, kencana, palun dan sebagainya.
• Sawah bayar atau sawah pasang surut,
• Sawah barat atau sawah tahun,
• Sawah timur atau sawah rintak,
• Sawah terapung atau sawah turung dan
• Sawah penyambung.
• Sedang jenis padi yang dihasilkan sawah-sawah tersebut adalah padi bayar putih, bayar melintang, bayar kuning, karang dukuh, siam, ketan putih, ketan hitam, kencana, palun dan sebagainya.
Cara
pertanian di awah untuk daerah Kalimantan Selatan masih dilaksanakan
secara tradisional, dimulai dari menanam bibit padi, memelihara, dan
menuai (panen). Bukan hanya itu, teknik pertanianpun disesuaikan dengan
kondisi alam setempat, misalnya orang menanam bibit padi selain
dilakukan di atas tanah tinggi, juga ditanam di atas rakit yang diberi
tanah. Sedangkan ani-ani digunakan sebagai alat untuk memotong padi pada
umumnya. Selain itu waktu yang tepat waktu musim mengetan padi
orang-orang secara bergotong royong mengetam padi di sawah yang disebut
ba-arian atau bahandipan. Setelah diketan padi tersebut disimpan untuk
sementara ditempatkan di tempat yang dinamakan kerambat. Kemudian
setelah diirik (dipisahkan dari tangkai) dan dipompa lalu dijemur dan
kemudian disimpan di dalam tempat yang disebut kindai atau kerangking.
Dalam hal ini daerah Kalimantan Selatan dikenal dengan adanaya upacara-upacara yang bertujuan agar panen melimpah, antara lain.
Upacara memberasihi.
Pada waktu akan mengetan, untuk pelaksanaan upacara ini disediakan
sajen berupa nasi lemak dan kakulih yang disediakn dan dibacakan doa
selamat. Sedang pada pondok-pondok orang yang akan mengetan dinaikan
bendera kuning. Setelah itu mereka turun ke sawah menghampiri padi yang
sudah masak itu dan mulai mengetan dengan membaca selawat. Padi yang
diketan hanya tiga tangkai. Lalu dibungkus dengan kain kuning yang sudah
disediakan dan dibawa ke pondok untuk seterusnya diletakan ke tengah
kindai sebagai penyaru padi-padi yang lainnya. Setelah itu baru dimulai
mengetan secara bergotong royong.
Selain
itu adapula upacara ba-andi-andi. Dalam upacara ini lebih bersifat
kesenian di mana kalangan rakyat Kalimantan selatan ba-andi-andi yang
dinyanyikan pada waktu sedang mengetan padi dan mairik (memisahkan gabah
dari tangkai padi). Hal ini bertujuan untuk membangkitkan para pekerja
agar mereka bekerja lebih giat dan menjadi agar padi tidak rusak.
Adapula yang disebut lagu ahooi. Pada prisnsipnya sama dengan
ba-andi-andi yakni bertujuan untuk menghilangkan rasa lelah dan
membagkitkan gairah kerja.
6.Sasaka Domas
Kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan disebut Sasaka Domas, atau Sasaka
Pusaka Buana atau Sasaka Pada Ageung. Sasaka Domas adalah bangunan punden berunduk atau berteras-teras sebanyak tujuh tingkatan. Setiap teras diberi hambaro, benteng, yang terdiri atas susunan “menhir” (batu tegak) dari batu kali. Pada teras tingkat keempat terdapat menhir yang besar dan berukuran tinggi sekitar 2 m. Pada tingkat teratas terdapat “batu lumpang” dengan lubang bergaris tengah sekitar 90 cm, menhir dan “arca batu”. Arca batu ini disebut Arca Domas.
Domas berarti keramat, suci. Tingkatan teras, makin ke selatan undak-undakan makin tinggi dan suci. Digambarkan oleh Koorders (1869), Jacob dan Meijcr (1891) dan Pleyte (1909) bahwa letaknya di tengah hutan tua yang sangat lebat, hulu sungai Ciujung dan puncak gunung Pamuntuan. Bangunan tua ini merupakan sisa peninggalan megalitik. Sebagai kiblat ibadah, Sasaka Domas diyakini sebagai tanah atau tempat suci, keramat (sacral), para nenek moyang berkumpul (Permana, 2006: 38 dan 89-90). Di tanah suci ini umat Sunda Wiwitan melaksanakan ritual pe-muja-an. Ritus muja adalah ziarah memanjatkan do‟a dan membersihkan obyek utama pemujaan Baduy.
Ibadah
ritual pe-muja-an di Sasaka Domas dipimpin oleh puun Cikeusik. Tujuan
ritus muja adalah untuk me-muja para karuhun, nenek moyang, dan
menyucikan pusat dunia. Dalam ritual ini hanya orang-orang tertentu yang
melaksanakan muja atas nama masyarakat Baduy secara keseluruhan. Yakni,
para puun dan orang-orang yang ditunjuk. Orang-orang ditunjuk
melaksanakan ritus muja bukan didasarkan kriteria tertentu. Ritual ini
dilaksanakan selama tiga hari: tanggal 16, 17 dan 18 pada bulan Kalima.
Waktu tiga hari ritual terbagi terdiri dari, dua hari untuk pergi dan
pulang dan sehari untuk ibadah ritual muja (Permana, 2006: 88).
Prosesi
ziarah menuju ke Sasaka Domas harus melalui sisi sebelah utara, tidak
boleh dari sisi selatan. Ritual muja dimulai oleh puun pada teras
tingkat pertama, dengan menghadap ke selatan, arah puncak. Selesai
ritual muja biasanya pada tengah hari, sekitar pukul 11.00-13.00.
Setelah ritual muja, dilanjutkan dengan membersihkan dan membenahi
pelataran teras. Sampai pada teras teratas (ketujuh), para pe-muja
menyucikan muka, tangan dan kaki pada batu lumpang yang disebut
Sanghyang Pangumbaran. Keadaan air di dalam “batu lumpang” adalah simbol
keadaan alam Baduy. Jika airnya penuh dan jernih, menandakan akan turun
hujan banyak, cuaca baik dan panen berhasil. Sebaliknya, jika air
dangkal dan keruh menandakan kekeringan dan kegagalan panen. Pada
keadaan “menhir” di puncak, jika dipenuhi lumut menandakan akan
mendapatkan kesentosaan dan kesejahteraan dalam tahun bersangkutam,
tetapi sebaliknya dapat memperoleh kesengsaraan dan kesulitan (2006:
90-91).
Umat Sunda Wiwitan yang berniat, tidak diwajibkan, meminta berkah datang pada
sore tanggal 18 Kelima dan menanti para pe-muja di alun-alun depan rumah jaro Cikeusik
atas nama dan restu puun Cikeusik. Mereka membentuk kelompok berdasarkan asal
kampungnya. Setiap kelompok beranggota 5-10 orang dan memiliki juru bahasa dari
kokolot kampung. Juru bahasa berfungsi mengantar, mengenalkan dan mengutarakan niat
kedatangannya. Mereka wajib berpuasa dan mengenakan pakaian yang baik dan bersih.
Masing-masing orang membawa sesaji dan uang kertas (semampunya) yang akan diserahkan kepada jaro sebagai imbalan berkah. Berbuka puasanya tergantung pada
kedatangan para pe-muja dan setelah selesai mandi serta isyarat dari puun Cikeusik.
Waktu berbuka puasa biasanya antara pukul 15.00-19.00, waktu lingsir dan burit. Berbuka puasanya dengan luluy yang disediakan oleh palawari. Luluy adalah sejenis lemang atau lontong dari beras yang dibungkus daun patat dan dimasukkan dan dimasak di dalam bambu. Palawari adalah 5-7 orang laki-laki yang bertugas dan bertanggung jawab membuat luluy. Tujuan meminta berkah adalah memohon keselamatan dan kemurahan rejeki (2006: 91-92).
sore tanggal 18 Kelima dan menanti para pe-muja di alun-alun depan rumah jaro Cikeusik
atas nama dan restu puun Cikeusik. Mereka membentuk kelompok berdasarkan asal
kampungnya. Setiap kelompok beranggota 5-10 orang dan memiliki juru bahasa dari
kokolot kampung. Juru bahasa berfungsi mengantar, mengenalkan dan mengutarakan niat
kedatangannya. Mereka wajib berpuasa dan mengenakan pakaian yang baik dan bersih.
Masing-masing orang membawa sesaji dan uang kertas (semampunya) yang akan diserahkan kepada jaro sebagai imbalan berkah. Berbuka puasanya tergantung pada
kedatangan para pe-muja dan setelah selesai mandi serta isyarat dari puun Cikeusik.
Waktu berbuka puasa biasanya antara pukul 15.00-19.00, waktu lingsir dan burit. Berbuka puasanya dengan luluy yang disediakan oleh palawari. Luluy adalah sejenis lemang atau lontong dari beras yang dibungkus daun patat dan dimasukkan dan dimasak di dalam bambu. Palawari adalah 5-7 orang laki-laki yang bertugas dan bertanggung jawab membuat luluy. Tujuan meminta berkah adalah memohon keselamatan dan kemurahan rejeki (2006: 91-92).
Prosesi meminta berkah di rumah jaro Cikeusik. Seluruh kelompok duduk bersila di
ruang tepas, sedangkan jaro duduk bersila di ruang imah. Juru bahasa lebih dahulu masuk ke ruang imah menghadap jaro untuk mengenalkan diri dan kelompoknya serta menyampaikan niat dan tujuan mereka. Jaro duduk bersila di sisi selatan ruang imah menghadap utara, sedangkan juru bahasa berada di sisi utara menghadap ke selatan (jaro). Juru bahasa langsung menyerahkan sesajinya kepada jaro. Setelah menerima sesaji, jaro mengambil sepotong luluy yang di dalamnya dimasukkan jukut komala dan lemah bodas. Jukut komala, rumput permata adalah lumut yang menempel di teras tingkat kedua Sasaka Domas, sedang lemah bodas, tanah putih. Keduanya diambil pada teras tingkat kedua dari sebelah utara. Lalu, luluy diberi jampi-jampi, ditiup tiga kali dan disuapkan kepada seorang peminta berkah. Akhirnya, juru bahasa memohon diri dan keluar meninggalkan ruang imah, lalu mempersilakan anggota kelompoknya masuk ke ruang imah secara bergiliran menghadap jaro. Mereka yang sudah mendapatkan berkah segera ke luar rumah jaro. Prosesi ini berlangsung hingga larut malam, bahkan pernah terjai hingga fajar (2006: 92).
ruang tepas, sedangkan jaro duduk bersila di ruang imah. Juru bahasa lebih dahulu masuk ke ruang imah menghadap jaro untuk mengenalkan diri dan kelompoknya serta menyampaikan niat dan tujuan mereka. Jaro duduk bersila di sisi selatan ruang imah menghadap utara, sedangkan juru bahasa berada di sisi utara menghadap ke selatan (jaro). Juru bahasa langsung menyerahkan sesajinya kepada jaro. Setelah menerima sesaji, jaro mengambil sepotong luluy yang di dalamnya dimasukkan jukut komala dan lemah bodas. Jukut komala, rumput permata adalah lumut yang menempel di teras tingkat kedua Sasaka Domas, sedang lemah bodas, tanah putih. Keduanya diambil pada teras tingkat kedua dari sebelah utara. Lalu, luluy diberi jampi-jampi, ditiup tiga kali dan disuapkan kepada seorang peminta berkah. Akhirnya, juru bahasa memohon diri dan keluar meninggalkan ruang imah, lalu mempersilakan anggota kelompoknya masuk ke ruang imah secara bergiliran menghadap jaro. Mereka yang sudah mendapatkan berkah segera ke luar rumah jaro. Prosesi ini berlangsung hingga larut malam, bahkan pernah terjai hingga fajar (2006: 92).
Prosesi
meminta berkah berkiblat kepada prosesi ziarah ke Sasaka Domas.
Yakni, berkiblat menghadap ke arah selatan, tempat suci, Sasaka Domas.
Karena itu, kiblat ibadah pe-muja-an umat Sunda Wiwitan ke arah selatan.
Hal ini berbeda dengan ibadah shalat umat Islam Indonesia yang
berkiblat menghadap ke arah barat, Ka’bah. Meski demikian, pada dasarnya
prosesi ibadah pe-muja-an di tanah suci, Sasaka Domas mirip dengan
prosesi ibadah haji di tanah suci, Ka’bah. Ibadah haji dilaksanakan pada
tanggal 8, 9 dan 10 Dzulhijah. Pada tanggal 9 Dzulhijah umat Islam yang
tidak melaksanakan ibadah haji disunatkan berpuasa Arafah. Dan,
sebagian umat Islam Indonesia berbuka puasa biasanya dengan nasi lontong
atau ketupat.
Setelah
jama‟ah haji datang di rumah masing-masing, tidak sedikit masyarakat
Islam yang datang dan meminta berkah kepada orang yang telah
melaksanakan ibadah haji. Karena itu, yang jelas membedakan dengan
Islam, keimanan dan ketaatan Sunda Wiwitan kepada Tuhan terkandung di
dalam makna simboliknya supaya senantiasa menjaga dan melestarikan
hutan, sungai dan puncak gunung berada dalam ekosistemnya supaya
memberikan kedamaian dan kesejahteraan pada umat manusia.
7.Peristiwa Tri Suci Waisak

Tri
Suci Waisak merupakan tiga peristiwa penting yang diperingati oleh umat
Buddha di seluruh dunia, salah satu tempat yang menjadi sentral upacara
seremonial Waisak yaitu pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah.
Tri
Suci Waisak merupakan tiga peristiwa suci yang dialami oleh Sidharta
Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna dan parinirvana.
- Kelahiran Sidharta, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini, Nepal.
-
Pencerahan sempurna Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun
588 sebelum Masehi di bawah pohon Bodhi, Bodhgaya, India.
- Parinirvana atau wafatnya Buddha, pada hari purnama sidi bulan Waisak tahun 543 sebelum Masehi di Kushinara, India.
Ketiga
peristiwa ini memiliki nilai-nilai dharma Buddha yang mengajarkan
tentang pengorbanan hidup, kebenaran, kebijaksanaan dan kesempurnaan
hidup yang telah dijalani oleh Buddha Gautama.
Prosesi
Tri Suci Waisak diawali dengan Pindapata, prosesi dari Candi Mendut
menuju Candi Borobudur, ritual detik-detik Waisak, Pradaksina dan
ditutup dengan pelepasan lampion. Pelepasan lampion memiliki makna untuk
melepaskan penderitaan manusia.
Pemaknaan
Peristiwa Tri Suci Waisak terkait dengan pikiran dan pandangan manusia.
Pandangan terang dan pikiran luhur akan membawa manusia pada kehidupan
yang lebih baik.
Empat Pikiran Luhur:
1. Metta (Maitri) bermakna cinta kasih adalah bagian pertama dari Empat Kediaman Luhur (Brahmavihara) atau empat keadaan yang tidak terbatas (Apamanna).
2. Karuna, artinya welas asih berupa pengharapan agar semua makhluk hidup terbebas dari penderitaan.
3. Mudita, atau simpatik, adalah sikap ikut bergembira akan kebahagiaan dan kebajikan semua makhluk.
4. Upekkha
atau keseimbangan batin adalah sikap menganggap semua makhluk hidup
adalah setara, terlepas dari hubungan mereka dengan diri sendiri.
Nilai-nilai
kemanusiaan dalam Peringatan Tri Suci Waisak merupakan teladan budi
pekerti yang luhur dan bermartabat, menjadi simbol karakter budaya
bangsa Indonesia.
Dan sebenarnya masih banyak lagi kebudayaan indonesia yang belum kita gali ataupun kita ketahui . karena indonesia mempunyai banyak kebudayaan di mulai dari kepercayaan , upacara adat, bahasa , maupun kesenian.
sekian Terimakasih ^_^
Sumber
http://kebudayaanindonesia.net/subkategori/91/upacara-keagamaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar